KETIKA Presiden AS Donald Trump mengumumkan kenaikan tarif impor hingga 50 persen terhadap produk India.
Respons publik negeri India itu juga tak kalah keras: seruan boikot produk Amerika merebak.
Dari McDonald’s, Coca-Cola, hingga Apple terdampak karena warga diajak meninggalkan merek asing demi membela produk lokal.
Sebuah cermin baru atas semangat Atmanirbhar Bharat (Mandiri India) yang ditegakkan pemerintah.
Aksi Swadeshi Jagran Manch: Nasionalisme dalam Gelombang Offline dan Online
Kelompok Swadeshi Jagran Manch, yang terkait dengan Partai BJP pendukung Perdana Menteri Modi, mengadakan aksi simbolik di berbagai kota.
Mereka membagikan daftar pilihan alternatif lokal melalui WhatsApp dan menyebarkan grafik kampanye “Boycott foreign food chains” di media sosial.
“This is a call for nationalism, patriotism,” kata Ashwani Mahajan, koordinator bersama kelompok tersebut.
Dari Kopi Rp 8.000 hingga Retorika Diplomasi
Tidak semua warga terbawa suasana boikot. Rajat Gupta, 37 tahun, yang datang ke McDonald’s di Lucknow, mengaku tak ambil pusing.
“Tariffs are a matter of diplomacy and my McPuff, coffee should not be dragged into it,” ujarnya.
Dia menekankan konsumsi sehari-hari tak seharusnya diseret ke dalam konflik geopolitik.
Bisnis Garmen dan Tekstil: Tertekan, tetapi Tahan Banting
Tarif 50 persen diramalkan berdampak pada 55 persen produk ekspor India ke AS.
Sektor tekstil dan garmen, khususnya di pusat sentra produksi Tiruppur, diguncang.
K. M. Subramanian, ketua Tiruppur Exporters’ Association, mengungkapkan bahwa dari ekspor tahunan mencapai sekitar ₹ 45.000 crore, sekitar ₹ 6.000 crore berisiko hilang akibat bloqueo pasar AS.
Dampak Global: “Make in India” Terancam—Tiongkok Bersorak?
Kebijakan Trump tak hanya memantik boikot, tetapi juga menahan ritme program Make in India yang baru digagas PM Modi sebagai pengungkit perekonomian lokal.
Moody’s memperingatkan dampak jangka panjang terhadap investasi dan produksi domestik.
Sementara beberapa perusahaan ekspor mempertimbangkan relokasi ke Bangladesh, Vietnam, atau negara tetangga lainnya.
Nada Protes dari Pemerintah dan Aktivis: “Unilateral dan Tidak Logis”
Seorang diplomat senior India menyebut keputusan tarif ini sebagai “unilateral decision” yang “lacks logic or reason,” namun tetap menyatakan bahwa dialog perdagangan antara kedua negara masih berlanjut.
Sementara itu, Sanyukt Kisan Morcha (SKM), mewakili petani, menyebut tindakan AS sebagai “economic embargo.”
Mereka menuntut peninjauan cepat perjanjian dagang dan melakukan aksi simbolik pada momentum Hari Quit India.***
Sempatkan untuk membaca berbagai berita dan informasi seputar ekonomi dan bisnis lainnya di media Infotelko.com dan Infoekonomi.com.
Simak juga berita dan informasi terkini mengenai politik, hukum, dan nasional melalui media 23jam.com dan Haiidn.com.
Informasi nasional dari pers daerah dapat dimonitor langsumg dari portal berita Hallotangsel.com dan Haisumatera.com.
Untuk mengikuti perkembangan berita nasional, bisinis dan internasional dalam bahasa Inggris, silahkan simak portal berita Indo24hours.com dan 01post.com.
Pastikan juga download aplikasi Hallo.id di Playstore (Android) dan Appstore (iphone), untuk mendapatkan aneka artikel yang menarik. Media Hallo.id dapat diakses melalui Google News. Terima kasih.
Kami juga melayani Jasa Siaran Pers atau publikasi press release di lebih dari 175an media, silahkan klik Persrilis.com
Sedangkan untuk publikasi press release serentak di media mainstream (media arus utama) atau Tier Pertama, silahkan klik Publikasi Media Mainstream.
Indonesia Media Circle (IMC) juga melayani kebutuhan untuk bulk order publications (ribuan link publikasi press release) untuk manajemen reputasi: kampanye, pemulihan nama baik, atau kepentingan lainnya.
Untuk informasi, dapat menghubungi WhatsApp Center Pusat Siaran Pers Indonesia (PSPI): 085315557788, 087815557788.
Dapatkan beragam berita dan informasi terkini dari berbagai portal berita melalui saluran WhatsApp Sapulangit Media Center





